PERMASALAHAN DAN PROSPEK AGRIBISNIS PERUNGGASAN TAHUN 2007

Pendahuluan

Kinerja ekonomi nasional pada tahun 2007 diperkirakan akan lebih baik dibandingkan dengan kinerja tahun 2006. Penyebabnya antara lain adalah pulihnya daya beli konsumen, menurunnya laju inflasi dan suku bunga, serta membaiknya perekonomian dunia. Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2007 diperkirakan optimistis pada kisaran angka 6,3%, inflasi 6,5%, suku bunga SBI tiga bulan 8,5%. Hal yang menggembirakan adalah struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2007 diperkirakan akan lebih baik, di mana pertumbuhan ekonomi tak hanya ditunjang oleh belanja rumah tangga (konsumsi) saja. Pada 2007 belanja rumah tangga diperkirakan tumbuh 3,7%, investasi tumbuh 10,6%, ekspor 9,4%, dan belanja pemerintah 9,1%. Sejalan dengan proyeksi kondisi perekonomian nasional yang semakin membaik, prospek agribisnis perunggasan juga menjanjikan, namun penuh dengan tantangan.

Permasalahan Agribisnis Perunggasan

Walaupun komoditas unggas mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis dalam perekonomian Indonesia, tidak dapat dielakkan bahwa komoditas ini sering mengalami permasalahan-permasalahan yang menghambat pengembangannya baik secara makro maupun mikro. Pada tahun 2007 kemungkinan beberapa masalah yang terjadi pada tahun ini masih merupakan hambatan dalam pengembangan agribisnis perunggasan. Dua permasalahan yang memerlukan perhatian yang serius oleh para stakeholders peternakan unggas, yaitu kurang tersedianya bahan baku pakan yang berasal dari sumberdaya domestik, sehingga Indonesia masih harus mengimpor dan mewabahnya penyakit khususnya Avian Influenza (AI) atau flu burung. Dua permasalahan ini sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan agribisnis perunggasan.

Komponen terbesar untuk memperoleh produk yang berdayasaing terletak pada aspek pakan, dimana biaya pakan ini merupakan komponen tertinggi dalam komposisi biaya produksi industri perunggasan, berkisar antara 60-70 persen. Bukti empiris menunjukkan bahwa lemahnya kinerja penyediaan bahan baku pakan menjadi salah satu kendala dalam menghasilkan produk unggas yang berdayasaing. Apalagi jika hal ini dikaitkan dengan bahan baku utama pakan unggas yang sebagian besar terdiri dari jagung, dimana impor jagung untuk kebutuhan pakan unggas terus meningkat dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, biaya pakan ini disebut pula sebagai crucial factor yang sangat menentukan apakah usaha perunggasan dapat bersaing atau tidak.

Penyakit Avian Influenza (AI) adalah salah satu penyakit yang sampai saat ini masih terjangkit di beberapa daerah di Indonesia. Baru-baru ini, di propinsi Papua tepatnya di daerah Timika yang merupakan propinsi paling ujung timur Indonesia yang sejauh ini tercatat belum tertular AI, terdapat unggas yang positif terinfeksi virus mematikan tersebut. Selain itu terjadinya pergantian musim dari musim kemarau ke musim hujan menurut data-data empiris para pakar kesehatan hewan dan juga pengalaman para peternak menunjukkan sedikitnya terdapat tiga jenis penyakit yang menyerang komoditas unggas. Penyakit tersebut adalah yaitu Infectious Bronchitis (IB), Gumboro dan layer dan penyakit yang disebabkan virus ILT.

Selain dua permasalahan tersebut beberapa permasalahan yang mungkin tetap terjadi pada agribisnis perunggasan antara lain, permasalahan sistim pembiyaan (permodalan), ancaman masuknya CLQ dan MDM, PPN produk peternakan, dan tata ruang yang belum jelas sering menjadi penghambat dalam mengembangkan usaha agribisnis unggas. Selain itu infrastruktur yang kurang memadai seperti tersedianya jalan yang baik, sarana trasportasi, dan komunikasi juga dapat menciptakan permasalahan yang rumit bagi peternak disamping permasalahan ekonomi biaya tinggi akibat berbagai pungutan dan restribusi di berbagai daerah di tanah air.

Prospek Agribisnis Perunggasan

Bila melihat berbagai permasalahan seperti yang diuraikan sebelumnya, maka pengembangan agribisnis perunggasan pada tahun 2007 membutuhkan usaha yang keras. Akan tetapi agribisnis perunggasan juga memiliki potensi yang besar dan menjanjikan dalam pengembangannya. Indonesia merupakan pasar yang potensial bagi agribisnis perunggasan. Komoditas unggas mempunyai prospek pasar yang sangat baik karena didukung oleh karakteristik produk unggas yang dapat diterima oleh masyarakat Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai ± 220 juta jiwa dan masih tetap bertumbuh sekitar 1,4 persen per tahun pun merupakan konsumen yang sangat besar. Konsumsi rata-rata msayarakat terhadap hasil unggas khususnya telur ayam dan daging ayam pun memiliki tren yang meningkat. Hal ini mengindikasikan konsumsi masyarakat akan hasil komoditas unggas semakin baik dan merupakan peluang bagi usaha dan industri perunggasan untuk mengembangkan usahanya.

Selain itu Indonesia memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantage) dalam komponen biaya input untuk tenaga kerja yang relatif lebih murah dibandingkan negara lain di ASEAN. Potensi dalam mengembangkan produksi jagung nasional dapat mengurangi ketergantungan impor dan menurunkan biaya produksi, sehingga mampu meningkatkan skala usaha yang optimal. Integrasi secara vertikal (vertical integration) juga sudah mulai terlaksana dengan menerapkan pola-pola kemitraan (contract farming), dimana peternak sudah banyak bergabung dengan perusahaan inti sehingga jumlah pemeliharaan unggas juga semakin meningkat dan mampu menjaga kualitas dari hasil komoditas unggas tersebut.

Kondisi yang semakin membaik dari perekonomian Indonesia juga memberikan sinyal pasar (market signal) yang baik bagi perkembangan agribisnis perunggasan. Membaiknya iklim usaha akan mempu merangsang dan menarik investor baik swasta maupun asing dalam memanfaatkan potensi dan peluang usaha agribisnis perunggasan. Jika pemulihan ekonomi berjalan baik juga akan meningkatkan pendapatan per kapita yang kemudian akan menaikkan daya beli masyarakat.

Penutup : Implikasi Kebijakan

Dalam mengembangkan agribisnis perunggasan hal penting yang harus dilakukan adalah meminimalkan permasalahan yang terjadi dan sekaligus mengoptimalkan potensi yang dimiliki Indonesia saat ini. Beberapa kebijakan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Pertama, meningkatkan produksi dan produktivitas hasil perunggasan Indonesia yang berdaya saing tinggi dan memiliki nilai tambah dari produk-produk turunan yang dihasilkannya. Hal ini dapat dilakukan melalui penyediaan teknologi terapan tepat guna, tepat lokasi baik budi daya, pasca produksi, maupun pengolahan hasil. Dengan adanya teknologi tersebut diharapkan akan mampu mengurangi biaya produksi yang digunakan dengan tetap mampu menghasilkan produk yang berkualitas.
  • Kedua, penanganan dan pencegahan berbagai wabah penyakit khususnya kasus flu burung harus dilakukan sesegera mungkin dan secara komprehensif. Beberapa hal diantaranya yang dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan manajemen pemeliharaan untuk meminimalkan resiko ternak terserang penyakit, melakukan desinfektan secara terpadu pada kawasan peternakan, pemberian vaksin yang tapat waktu, tepat sasaran dan melakukan pengawasan yang ketat tehadap masuknya hasil ternak dari luar negeri yang terinfeksi penyakit menular.
  • Ketiga, pemerintah harus melindungi produk peternakan dalam negeri dari ancaman produk luar baik legal maupun ilegal yang dapat mengancam usaha dan industri perunggasan nasional. Masuknya produk-produk impor haruslah dilihat dari kacamata kepentingan bersama khususnya dalam memajukan agribisnis peternakan yang mayoritas dilaksanakan oleh peternak rakyat. Kendati pun ijin masuknya produk hasil peternakan tersebut dikeluarkan, perdagangan dan persaingan seyogianya dilakukan secara adil dan fair sehingga yang terjadi adalah persaingan yang sehat tentunya yang berpihak kepada masyarakat Indonesia.
  • Keempat, pengembangan agribisnis perunggasan merupakan tanggung jawab berbagai stakeholders, untuk itu perlu dikembangkan suatu komitmen dan kerjasama diantara semua stakeholders terutama dalam bentuk kerjasama yang erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi dan pelaku usaha.
  • Kelima, pemerintah harus berupaya lebih baik dan lebih serius untuk menciptakan iklim investasi yang lebih baik dengan jalan memberikan insentif (incentives) dan pemanis (sweetener) bagi para pelaku bisnis perunggasan. Insentif dan pemanis yang diharapkan antara lain adalah dihapuskannya PPN, pengurangan pajak, penegakan hukum (law enforcement), penghapusan retribusi dan pungutan di berbagai daerah, penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur yang lebih baik (jalan, rumah pemotongan ayam (RPA) yang lebih bersih dan higenis), tersedianya akses permodalan bagi para peternak unggas dan tak kalah pentingnya adalah penataan kelembagaan penyuluhan dalam rangka transfer teknologi kepada para peternak.

Dalam sebuah bidang usaha sudah sewajarnya kalau terjadi berbagai permasalahan dalam pengembangannya. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menanggulangi permasalahan-permasalahan tersebut dan menjadikannya sebagai pemicu dalam memperoleh keberhasilan. Saya yakin bila penanganan agribisnis perunggasan dilakukan secara serius oleh para stakeholders, pada tahun 2007 nanti kontribusi agribisnis perunggasan dalam perekonomian Indonesia akan semakin besar dan akan menjadi salah satu pilar dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s