PENETAPAN 21 BAKAL CALON REKTOR IPB 2007-2012

Dari http://ppr.ipb.ac.id/ :

Dengan ini diberitahukan bahwa proses penetapan Bakal Calon Rektor IPB dari 29 orang menjadi 21 orang telah berlangsung dalam suatu sidang pleno Senat Akademik (SA) IPB tanggal 25 September 2007 pukul 10.00 – 13.00 WIB.

PPR mengucapkan selamat kepada Bakal Calon Rektor yang dinyatakan lolos seleksi dan diperkenankan dapat mengikuti tahap selanjutnya, yaitu tahap penyampaian visi, misi, dan program kerja Balon Rektor IPB-BHMN Periode 2007-2012, yang rencananya akan diselenggarakan dalam sidang terbuka Senat Akademik (SA) tanggal 1 – 5 Oktober 2007, dan kepada Bakal Calon Rektor IPB yang tidak lolos pada penetapan tersebut, PPR menyampaikan terimakasih dan penghargaan atas kesediaan dan memenuhi kelengkapan administrasi menjadi Bakal Calon Rektor IPB. Semoga hal ini menjadi bagian niat dan amal baik kita, semoga kita selalu dapat memberikan sumbangan pemikiran dan karya bagi pengembangan IPB saat ini dan di masa datang.

Silakan baca selanjutnya di sini …

PENINGKATAN NILAI TAMBAH INDUSTRI PERUNGGASAN MELALUI SUPPLY CHAIN MANAGEMENT

PENDAHULUAN

Peningkatan dayasaing industri perunggasan harus dilakukan dengan pendekatan yang holistik (menyeluruh), komprehensif dan terintegrasi, tidak parsial dan tidak egosektoral. Hal ini dikarenakan salah satu karakteristik dasar dalam bisnis perunggasan adalah produk akhir dari komoditas tersebut dihasilkan melalui tahapan-tahapan proses mulai dari hulu hingga hilir. Restrukturisasi industri perunggasan memerlukan pembenahan di semua lini industri termasuk produksi, pengolahan, distribusi, rumah pemotongan ayam (RPA) hingga jalur pemasaran akhir produk-produk olahannya.

Salah satu kerangka analisis yang sangat populer digunakan akhir-akhir ini dalam peningkatan nilai tambah dan dayasaing industri perunggasan adalah supply chain management (SCM). Manajemen rantai pasokan tersebut pada hakekatnya merupakan koordinasi rantai-rantai pasokan (supply chain) mulai dari proses produksi, pengolahan, distribusi, pemasaran hingga ¬konsumen akhir (baik restoran maupun rumah tangga). Dengan demikian dalam memberikan nilai tambah bisnis dan industri peternakan unggas secara menyeluruh (from farm to table business), para pelaku dalam industri perunggasan perlu memperhatikan manajemen rantai pasokan tersebut. Baca lebih lanjut

CONTRACT FARMING SEBAGAI SUMBER PERTUMBUHAN BARU DALAM BIDANG PETERNAKAN

PENDAHULUAN

Sektor pertanian (dalam arti luas termasuk peternakan, perikanan dan kehutanan) merupakan sektor yang paling besar menyerap tenaga kerja nasional. Menurut data Depnakertrans, tahun 2005, sektor ini menyediakan pekerjaan bagi 41,8 juta jiwa atau 44,04% dari total tenagakerja nasional. Akan tetapi petani yang bekerja di sektor tersebut didominasi oleh rumah tangga yang sangat lemah dalam berbagai bidang, seperti keterbatasan dalam menguasai aset produktif, modal kerja, posisi tawar dan kekuatan politik ekonomi sehingga tidak dapat berkembang secara mandiri dan dinamis. Jumlah penduduk miskin di Indonesia didominasi oleh masyarakat pedesaan yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, peternak dan nelayan. Sementara di pihak lain peluang-peluang baru untuk meningkatkan sektor pertanian lebih banyak berpihak pada preses produksi dan pemasaran berskala besar. Kondisi tersebut mengakibatkan bertambah rumitnya sistem produksi dan pemasaran yang dihadapi oleh petani, peternak dan nelayan berskala kecil.

Khususnya dalam bidang peternakan terdapat berbagai masalah yang dihadapi misalnya rendahnya kepemilikan modal, peralatan yang masih sederhana dan terbatas, kurangnya industri pengolahan dan sulitnya aspek pemasaran, yang membuat peternak tidak mampu menghasilkan produk yang bernilai dan berdaya saing tinggi. Oleh karena itu, peternak memerlukan bantuan dan perlindungan dari banyak pihak, baik pemerintah maupun swasta dalam menyelesaikan masalah tersebut. Untuk memberdayakan peternak dalam posisi tawar dapat dilakukan antara lain dengan membentuk kelembagaan yang merupakan organisasi kerjasama dan kemitraan. Salah satu langkah strategis untuk membantu petani khususnya dalam proses produksi dan pemasaran yaitu dengan sistem contract farming. Baca lebih lanjut

EKONOMI POLITIK IMPOR CHICKEN LEG QUARTER (CLQ) DI INDONESIA

Latar Belakang

Dalam perumusan kebijakan publik, pendekatan teknis dan ekonomis yang dikenal sebagai pendekatan teknokratis umumnya mempunyai kelemahan, terutama asumsi yang mendasarinya. Dalam pendekatan teknokratis, kita mengasumsikan bahwa proses pengambilan keputusan oleh pemerintah akan selalu berlangsung secara sempurna. Kita semua berasumsi bahwa semua pihak terkait, baik produsen maupun konsumen, memiliki penguasaan informasi yang sama dan mempunyai bobot pengaruh (political preference functions) yang sama terhadap pengambil keputusan, dan pembentukan harga sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar.

Kenyataannya, asumsi-asumsi tersebut tidak berlaku sepenuhnya. Pengambilan keputusan diambil dalam keadaan pasar persaingan yang tidak sempurna (imperfect competitive market). Misalnya, harga komoditas tidak sepenuhnya terbentuk karena keseimbangan permintaan dan penawaran, selain itu penguasaan informasi, akses terhadap teknologi, pasar dan sumber permodalan sangat berbeda antar para pelaku pasar, baik pelaku skala kecil, skala besar, konsumen, produsen, importir atau peternak domestik. Dalam hal ini terjadi kondisi informasi asimetrik (asymmetric information) diantara para pelaku yang terkait. Baca lebih lanjut

PERSUSUAN INDONESIA: KONDISI, PERMASALAHAN DAN ARAH KEBIJAKAN

Latar Belakang

Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan sektor pertanian yang memiliki nilai strategis, antara lain dalam memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat akibat bertambahnya jumlah penduduk, peningkatan rata-rata pendapatan penduduk, dan penciptaan lapangan pekerjaan. Hal ini juga sejalan dengan Kebijakan Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang telah dicanangkan oleh pemerintah. Besarnya potensi sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia memungkinkan pengembangan subsektor peternakan sehingga menjadi sumber pertumbuhan baru perekonomian Indonesia.

Salah satu komponen dari subsektor peternakan yang memiliki banyak manfaat dan berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia adalah agribisnis persusuan. Kondisi geografis, ekologi, dan kesuburan lahan di beberapa wilayah Indonesia memiliki karakteristik yang cocok untuk pengembangan agribisnis persusuan. Selain itu, dari sisi permintaan, produksi susu dalam negeri masih belum mencukupi untuk menutupi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Saat ini produksi dalam negeri baru bisa memasok tidak lebih dari 30% dari permintaan nasional, sisanya 70% berasal dari impor. Terkait dengan hal tersebut, yang menjadi pertanyaan adalah: Akankah kita membiarkan negara lain untuk terus meraup manfaat dari pangsa sebesar 70% tersebut? Apa sajakah yang harus kita upayakan guna meningkatkan dayasaing agribisnis persusuan kita sehingga pangsa peternak domestik dapat ditingkatkan? Baca lebih lanjut

PERMASALAHAN DAN PROSPEK AGRIBISNIS PERUNGGASAN TAHUN 2007

Pendahuluan

Kinerja ekonomi nasional pada tahun 2007 diperkirakan akan lebih baik dibandingkan dengan kinerja tahun 2006. Penyebabnya antara lain adalah pulihnya daya beli konsumen, menurunnya laju inflasi dan suku bunga, serta membaiknya perekonomian dunia. Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2007 diperkirakan optimistis pada kisaran angka 6,3%, inflasi 6,5%, suku bunga SBI tiga bulan 8,5%. Hal yang menggembirakan adalah struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2007 diperkirakan akan lebih baik, di mana pertumbuhan ekonomi tak hanya ditunjang oleh belanja rumah tangga (konsumsi) saja. Pada 2007 belanja rumah tangga diperkirakan tumbuh 3,7%, investasi tumbuh 10,6%, ekspor 9,4%, dan belanja pemerintah 9,1%. Sejalan dengan proyeksi kondisi perekonomian nasional yang semakin membaik, prospek agribisnis perunggasan juga menjanjikan, namun penuh dengan tantangan.

Permasalahan Agribisnis Perunggasan

Walaupun komoditas unggas mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis dalam perekonomian Indonesia, tidak dapat dielakkan bahwa komoditas ini sering mengalami permasalahan-permasalahan yang menghambat pengembangannya baik secara makro maupun mikro. Pada tahun 2007 kemungkinan beberapa masalah yang terjadi pada tahun ini masih merupakan hambatan dalam pengembangan agribisnis perunggasan. Dua permasalahan yang memerlukan perhatian yang serius oleh para stakeholders peternakan unggas, yaitu kurang tersedianya bahan baku pakan yang berasal dari sumberdaya domestik, sehingga Indonesia masih harus mengimpor dan mewabahnya penyakit khususnya Avian Influenza (AI) atau flu burung. Dua permasalahan ini sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan agribisnis perunggasan. Baca lebih lanjut